Kerinduan itu, melewatkan ku pada jalan buntu yg tak seorang pun tau,
pikiranku melintas cakrawala sunyi
Senandainya ada jalan yang menganga dari luka,
akulah orang yg pertama melewatinya,
seandainya ada jalan kenapa duka bisa melintasinya, akulah orang yg akan mengejarnya,
ak tak ingin sendiri!,
aku kesepian Tuan.., aku rindu...,
kenapa tak ada setan yg memusuhiku?
dimana duka?, dimana luka?, dimana tangis?,
menggelepar tanya-'ku dalam gelap dan pekat jiwa.
Tuan,
ajari aku berkorban dg air mata,
bukankah tidak setiap duka dan luka harus di tangisi.
"You and I just have a dreams"
Selasa, 19 Maret 2013
Minggu, 17 Maret 2013
cinta kanak - kanak kita
cinta kanak - kanak kita
sudah di ujung kuncup bebunga
ditaman kukucup mawar merah muda
di bibirmu
anggun malaikat melumat sekarat.
sudah di ujung kuncup bebunga
ditaman kukucup mawar merah muda
di bibirmu
anggun malaikat melumat sekarat.
Minggu, 10 Maret 2013
Sepasang Malam
seandainya kita bisa bersenang - senang dengan cinta,
maka kita akan di manja lewat sejuta khianat,
luka itu menari dengan indah,
dan orkes kegelapan menjadi lebih menyala.
sejuta cinta mungkin meruntuh hanya dalam bebrapa jam saja
itu jelas sekali saat kita tanggalkan satu setel gaun, maka semua nya menjadi terbaca.
huruf - huruf braile yang bersuara, dengan tak lazim ia bakar si pembaca.
Selasa, 19 Februari 2013
kegelapan yang menjeba
Kemurungan yang malang,
si kerasukan mengelam diremang taman miang,
mata hitam mengaspal pekat padat
Meletuplah keliaran merah
Kenari menari dirinjing angin
biji-bijinya seluruhnya tumpah terserak di jalan banjir
tubuh yang tikam kebencian jiwanya jadi ambruk dalam beberapa detik saja.
Di tembok laraku berkeliling
membinar sudah tawa kebencian licik.
Laraku memekik ditelinga kiri,
sungguh, pekiknya terdengar sampai tulang.
Menghitamlah kebisuan malam.
Matanya remuk didekat gerbong,
dikepala kemerahan berkobar.
si kerasukan mengelam diremang taman miang,
mata hitam mengaspal pekat padat
Meletuplah keliaran merah
Kenari menari dirinjing angin
biji-bijinya seluruhnya tumpah terserak di jalan banjir
tubuh yang tikam kebencian jiwanya jadi ambruk dalam beberapa detik saja.
Di tembok laraku berkeliling
membinar sudah tawa kebencian licik.
Laraku memekik ditelinga kiri,
sungguh, pekiknya terdengar sampai tulang.
Menghitamlah kebisuan malam.
Matanya remuk didekat gerbong,
dikepala kemerahan berkobar.
saat malam dekat laut
Dilaut yang bermakhota,
takhtamu terbentang dari ufuk ke ufuk,
nyanyian malam yang menggelora, rindukan para bahtera petualang.
Saat gelap malam. Bulan mu mengusik tidur sang kekasih.
anggunkan sampan yang menduyun lembut
dilentik angin dan atas kerlipan taman gemintang.
korona O, melaut sungguh indah
sinari gelap yang melanda di kusut dahi.
Pukau sendiri;
sungguh alam mainkan orkes indah kelelapan.
saat dengan tenang
ombak melaut lembut
di bibir pasir membuih
saat dengan damai jemari karang menjabat.
merasuklah…merasuklah…
takhtamu terbentang dari ufuk ke ufuk,
nyanyian malam yang menggelora, rindukan para bahtera petualang.
Saat gelap malam. Bulan mu mengusik tidur sang kekasih.
anggunkan sampan yang menduyun lembut
dilentik angin dan atas kerlipan taman gemintang.
korona O, melaut sungguh indah
sinari gelap yang melanda di kusut dahi.
Pukau sendiri;
sungguh alam mainkan orkes indah kelelapan.
saat dengan tenang
ombak melaut lembut
di bibir pasir membuih
saat dengan damai jemari karang menjabat.
merasuklah…merasuklah…
Langganan:
Komentar (Atom)